Thursday, 29 December 2011

OROK

Cerpen
Oleh : Pirdaus Palawero

Aku lahir dari rahim seorang wanita yang tak menginginkan kelahiranku dan aku terlahir belum pada waktunya. Aku dilahirkan di dalam rumah yang jauh di dalam hutan. Aku dilahirkan dengan bantuan seorang nenek keriput berwajah garang yang selalu ringan tangan membantu pasiennya yang merupakan pasangan muda mudi yang tak mau menjadi ayah dan ibu terlalu dini, yang sudah barang tentu bantuannya tersebut di beri imbalan dengan harga yang menurut aku sangat mahal, bukan karena resiko meninggalnya Si pasien cukup besar, tapi apalah arti uang sebanyak itu bagi nenek keriput yang tinggal di tengah hutan? Bila dibandingkan besarnya tarif dengan resiko meninggalnya Si Pasien yang cukup besar, maka tarif yang diberikan Si Nenek keriput terbilang sangat mahal bila dibandingkan dengan tarif apabila ditangani oleh seorang
tenaga medis yang resiko meninggalnya Si Pasien terbilang cukup rendah. Namun yang membuat mereka memilih Si Nenek keriput adalah tidak adanya tenaga medis yang mau membantu mereka untuk melakukan aborsi karena mereka takut masuk penjara. Membantu pasien untuk melakukan aborsi tanpa adanya syarat secara medis yang mengharuskan pasien menggugurkan kandungannya merupakan perbuatan tindak pidana karena membantu seseorang untuk menghabisi nyawa Si Janin. Empat minggu yang lalu seorang bidan di proses di kepolisian karena ketahuan melakukan praktek aborsi. Bukan hanya tenaga medis yang diancam hukuman penjara tetapi juga kepada siapa saja yang membantu maupun yang dibantu melakukan aborsi. Tiga bulan yang lalu Mak Eja yang tinggal di pinggir kota ditahan polisi karena tertangkap basah membantu seorang wanita penghuni barak yang pernah ditempati wanita yang melahirkanku untuk melakukan aborsi. Bukan hanya Mak Eja tapi kedua pasangan muda mudi yang meminta digugurkan kandungannya juga ikut ditahan polisi. Hanya orang yang tidak berpikir panjang yang mau mengambil resiko seperti ini.Walaupun sudah jelas resikonya baik di dunia maupun di akhirat nanti namun hampir tiap minggu selalu saja ada pasangan muda mudi yang datang ke rumah si Nenek keriput untuk minta bantuan menggugurkan kandungannya. Mereka adalah pasangan muda mudi yang belum mengucapkan ikrar yang suci di depan penghulu, belum ada ikatan secara syah di mata agama. Pasangan muda mudi yang mengsalah artikan tentang cinta. Mereka beranggapan bahwa pasangan mereka tidak mencintainya apabila tidak ada ciuman di kening, tidak ada ciuman di bibir. Menganggap bahwa cinta sejati adalah cinta yang harus mengorbankan apa saja termasuk mahkota paling berharga dari seorang perempuan. Mereka telah terjerumus dalam cinta yang salah, cinta yang di tunggangi hawa nafsu birahi. Sejatinya cinta sejati adalah cinta yang tumbuh dan bersemi dalam suatu ikatan perkawinan yang suci, saling menyayangi dan saling melindungi. Kehamilan di luar nikah akibat pergaulan bebas yang didasari cinta yang ditunggangi nafsu birahi, tak sedikit akan berakhir di gubuk Si Nenek keriput. Ketidak siapan untuk menikah, takut dimarahi orang tua, tidak ingin aibnya diketahui orang banyak maka ia mengambil jalan pintas dengan menggurkan kandungannya. Aku berdiri di sudut beranda depan rumah Si Nenek keriput. Aku memperhatikan belasan orok yang sedang duduk di depan pintu. Bila dilihat sekilas orok-orok ini tampak sangat lucu dan menggemaskan namun bila ditatap lebih lekat maka akan terlihat kabut diwajahnya, wajah murung dengan tatapan sendu. Di wajahnya tersirat kesedihan yang teramat dalam karena tidak sempat memberikan sumbangsinya buat negara ini. Ia sedih karena tidak sempat berbuat untuk memberantas para koruptor yang merugikan negara yang berdampak pada rakyat kecil, mempecundangi manusia berwajah dua di kancah politik negara ini. Orok-orok tersebut sesekali menyeringai, namun aku tidak tahu kepada siapa seringai itu ia berikan. Terkadang mereka menangis sejadi-jadinya membuat para penghuni hutan ketakutan. Aku tidak tahu apa arti tangisannya itu, atau mungkin mereka sedang kehausan karena semenjak mereka keluar dari rahim ibunya mereka tidak pernah merasakan nikmatnya air susu seorang ibu. Aku juga pernah merasakan rasa haus itu, aku menangis, tapi sekarang tidak lagi karena percuma aku menagis, tidak ada yang perduli dengan dahagaku atau keinginanku untuk memiliki mainan layaknya seorang anak-anak yang dibelikan mainan oleh ibunya. Aku sedih bercampur amarah karena kami yang tidak berdosa ini harus menjadi korban dari manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab.Aku masih ingat jelas tujuh bulan yang lalu. Hari itu aku merasa ada yang meremas-remas dan mengurut-ngurut dengan kasar tubuhku. Aku menjerit kesakitan, namun tak ada yang mendengar jeritanku hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Dan ketika kutersadar aku mendapati diriku melayang-layang disamping seorang wanita yang terkapar berlumuran darah yang mungkin itu adalah ibuku. Ia mengalami pendarahan yang hebat. Si Nenek keriput pucat. Seorang laki-laki yang mungkin itu adalah ayahku sangat ketakutan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Si Nenek keriput yang kehabisan akal untuk menghentikan pendarahan itu akhirnya menyuruh laki-laki yang memiliki moncong mirip anjing itu untuk membawa wanita berlumuran darah itu ke rumah sakit. Si laki-laki itu langsung bergegas membawa wanita itu menuju ke mobil. Aku mengikutinya. Ia mengendarai mobilnya bagai kesetanan. Sangat kencang. Sampai pada tikungan jalan ia tidak bisa mengendalikan mobilnya dan akhirnya meluncur terjun ke jurang. Tak ada yang tahu. Hanya aku dan sang penggurat takdir yang tahu kejadian ini.Mataku berkaca-kaca mengenang semua itu. Ada amarah yang berkobar-kobar di hatiku namun kepada siapa amarah ini aku tumpahkan. Sekarang aku dan orok-orok itu hanyalah sebentuk roh yang tidak dapat berbuat apa-apa. Kami hanya bisa pasrah menerima perlakuan manusia-manusia yang tak bertanggung jawab tersebut dengan tangis yang menyayat hati.Aku melemparkan pandanganku ke halaman. Dua muda mudi turun dari mobil menterengnya. Siapa lagi mereka ini yang ingin mengikuti jejak kedua orang tuaku. Batinku penuh amarah.
*** TAMAT ***

No comments:

Post a Comment