Wednesday, 11 May 2016

CINTAMU SEMURNI NAMAMU

Aku terpaku menatap haru. sinar bahagia terpancar di wajah cantiknya. Meski usianya sudah 40-an namun sisa-sisa kecantikannya masih terlihat. Alisnya yang indah, hidungnya yang bangir, wajah oval dengan setitik tailalat di pipinya. Membuat setiap lelaki yang melihatnya akan terpesona. Dia terharu bahagia telah berhasil mengantarkan anak perempuan satu-satunya ke jenjang pernikahan, sendirian tanpa suami. Pasti almarhum suaminya di alam sana merasa bangga pada istrinya karena berhasil merawat, membesarkan anak mereka, menyekolahkannya sampai sarjana, dan kini mendampinginya menuju pintu mahligai rumah tangga anaknya. Murni, dia adalah kakak sulungku. 23 tahun yang lalu. Terduduk dia bersandar pada dinding kamar. Dia sempat oleng, hampir terjatuh. Bunyi gesekan punggungnya dengan dinding, berderit saat dinding menahan tubuhnya yang perlahan turun karena kakinya seakan tak bertenaga lagi menahan tubuhnya. Kabar itu seperti hujaman kawali yang berkali-kali menancap tepat dijantungnya. hampir hilang kesadarannya. “suamimu telah berpulang kerahmatullah”. Sunyi, senyap, seperti tercekat, serasa napasnya mau hilang. perlahan, mata berkaca-kaca, menetes, berbulir-bulir menuruni pipinya lalu tumpah ruah seiring meledaknya raungan kesedihan yang sangat dalam. Kata pembawa berita, suaminya meninggal karena terlindas oleh mobil truknya sendiri. ban mobilnya pecah persis di jalan tanjakan. Almarhum menarik tuas rem tangan. Kemudian mematikan mesin mobilnya. Sebuah batu di pinggir jalan diambilnya untuk mengganjal ban mobilnya agar tidak turun. Almarhum kemudian berjongkok dan melongokkan kepalanya mengintip ban yang meldak. Mungkin karena berhentinya di tanjakan curam dan muatan mobilnya yang berat sehingga rem tangannya blong dan batu pengganjal pecah. Itu terjadi sangat singkat sehingga almarhum tidak sempat menghindar. Dia terdorong oleh ban, jatuh tersungkur tepat di bawah ban dan kepalanya.... ach. Butuh berbulan-bulan untuk menyembuhkan lukanya. Ditinggal oleh lelaki yang sangat dicintainya merupakan cobaan yang sangat berat baginya. Apalagi ketika melihat si kecil anak satu-satunya sekarang harus hidup tanpa ayah. Hatinya sangat pilu. Untung Si kecil yang cantik dan lucu itu selalu menjadi pelipur lara dan semangat hidup baginya. Sehingga perlahan-lahan dia tegar dan tegap berdiri menjalani hidup ini. Dulu, beberapa orang yang datang melamarnya namun selalu dia tolak dengan alasan ingin fokus merawat anak satu-satunya itu dan merawat kedua orang tua kami. Sebuah alasan yang membuat aku terharu dan ingin selalu memeluknya erat. Aku bangga padamu Daeng. Dadaku terasa sesak. Tiba-tiba dadaku dipenuhi rasa sedih. Meluap, meleleh, jatuh membasahi bibirku. Tak sanggup aku menahan air mata kesedihanku meski banyak orang disekitarku. Kakak Murnilah pemicu air mata ini berderai. Dia menangis tak tertahankan saat diminta mendampingi Etta-ku untuk memberikan doa restu dan mengoleskan pacci pada prosesi adat pernihan anaknya. Aku tahu gemuruh apa yang kakak murni rasakan. Seharusnya Wero-ku lah yang mendampingi Etta-ku. Namun Weroku telah pergi mendahului kami setahun yang lalu. Sebagai saudara perempuan satu-satunya di saudara kami dan juga sebagai kakak sulung kami maka dialah sekarang yang menjadi pengganti ibu bagi kami. Kecintaannya dan kasih sayangnya pada kami adik-adiknya dan Etta membuat dia yang layak duduk di samping Etta. Meski Wero-ku tak pernah tergantikan dihati kami anak-anaknya. Dia merangsek duduk disamping Etta, dihadapan anaknya yang cantik dengan pakaian adat pengantin bugis. Dia mengambil kelapa dan gula merah di talanan. Kemudian melapalkan doa sembari menyuapi anaknya dengan kelapa dan gula tersebut. Pacci di mangkok kecil diambilnya seujung tangan dan diolesinya ke telapak tangan anaknya. Ini dilakukan bergantian dengan Ettaku. Hingga prosesi mappaci itu selesai, Isak tangisnya tak pernah reda. Air mataku masih tetap mengalir meski momen itu telah berlalu. Dalam hatiku berdoa, semoga anak-mu daeng menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiinn. Tanggung jawab, kewajiban kakak murni telah berakhir dan tanggung jawab itu pindah kepundak suami anaknya. Semoga suami anaknya bisa mencintai dan menyayangi sepenuhnya seperti cinta dan kasih sayang kakak Murni-ku pada gadis sematawayangnya itu. Cukup sudah perjuangan kakak Murni untuk anaknya, namun sebagaimana kata pepatah, kasih sayang ibu sepanjang hayat. begitupun dengan kakak Murni, kapanpun anaknya membutuhkannya, dia akan selalu ada untuknya.

No comments:

Post a Comment